NU Peduli Sambangi Guru Ngaji Yang Tinggal Di Kandang Soang

Dari kiri H. Amirullah, SH Wakil Ketua PCNU, Mahmud, SH MH Wakil Sekretaris PCNU, Chaerudin LPBI NU dan Mey Fitriani Ketua Fatayat
Dari kiri H. Amirullah, SH Wakil Ketua PCNU, Mahmud, SH MH Wakil Sekretaris PCNU, Chaerudin LPBI NU dan Mey Fitriani Ketua Fatayat

Timesline, Bogor - Sudah 2,5 tahun Ibu Imas Romdona (39) menempati gubuk yang tak layak huni dengan kedua anaknya. Keikhlasan dan rasa syukurnya bisa berbagi ilmu membuat ia hingga saat ini tetap teguh dengan pilihan hidupnya, mengajar mengaji di lingkungan tempat ibu Imas tinggal.

Untuk menghidupi kedua anaknya, Ia tak bisa sepenuhnya mengandalkan penghasilan sang suami yang hanya bekerja buruh serabutan di Jakarta. Tak jarang dia harus memutar otak untuk bertahan hidup di era millinium.

Kondisi kehidupan seorang guru ngaji bernama Neng Imas Romdona (39) sangat memprihatinkan. betapa tidak, warga Kampung Pajeleran, RT03/08, Kelurahan Sukahati, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor harus rela tidur di Gubuk Reyot bekas Kandang Soang (angsa) berukuran 4 x 5 meter bersama dua anaknya.

Menyikapi hal ini Fatayat Nadlatul Ulama (FNU) Kabupaten Bogor langsung mengambil sikat positif dengan memberikan bantuan kepada Ibu Imas sebagai bentuk kepedulian lembaga tersebut.

Di hubungi via telepon, Selasa 19/05/2020   Wakil Sekretaris Pengurus Cabang Nadlatul Ulama (PCNU) Mahmud, SH,.HM megatakan pada wartawan, Keberadaan gubuk beralas tanah dan beratap terpal tersebut jelas sangat memprihatinkan dan jauh sekali terbilang layak huni. Sementara, sang suami, Yayat Supriyatna bekerja di daerah Jakarta dengan penghasilan yang tidak menentu. Bahkan sejak kasus virus corona merebak sang suami jarang sekali pulang,” ungkapnya.

“Ini tadinya kandang soang, saya bilang kalau dibersihin dan dijadikan tempat tinggal enak juga dari pada ngontrak mahal soalnya suami saya penghasilannya tidak tentu. Kalau dapat uang dia pulang dan kalau gak dapat dia enggak pulang karena percuma pulang juga karena gak bawa hasil,”tutur perempuan asal Pandeglang, Banten.

Lebih lanjut Mahmud menceritakan sebagaimana ibu Imas bercerita padanya,”Diakuinya, ia bersama dua orang anaknya tinggal dilokasi itu sejak sudah dua tahun lalu. Meski demikian, untuk menutupi kebutuhan sehari-hari dan biaya anak-anaknya sekolah ia mengabdikan diri sebagai guru ngaji. Namun, lagi-lagi tidak mencukupi, tutur Mahmud.

“Saya ngajar ngaji dari Senin sampai Jumat, itupun sekarang hanya setengah muridnya karena corona. Jadi penghasilan saya berkurang,” ulang Mahmud.

Sementara Amin, Ketua RT03/08, menerangkan bahwa pihaknya telah beberapa kali mengajukan permohonan pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Namun lagi-lagi faktor keberuntungan belum berpihak pada wanita kelahiran 39 tahun silam.

“Saat ini telah memiliki KTP di Kelurahan Sukahati dan sudah 12 tahun mengabdi sebagai guru ngaji,” ujar Amin.

NU Peduli segera mengirim bantuan kepada Neng Imas gerakan ini dipimpin secara spontan oleh H. Amirullah, SH  Wakil Ketua PCNU, Mahmud, SH MH Wakil Sekretaris PCNU, Chaerudin LPBI NU dan Mey Fitriani Ketua Fatayat.

Mahmud menyatakan perhatian lembaga perempuan seperti Fatayat NU dalam Bingkai NU Peduli dipelopori Teh Mey Fitriani alhamdulillah menjadi penyemangat ibu Imas menjalani kondisi ini. Diharapkan Fatayat NU terus bisa mengawal situasi guru guru ngaji perempuan yang senasib ibu imas sehingga ada jalan untuk meringankan beban hidup ekonomi mereka.

Mendengar dan  laporan dari Pengurus NU bahwa ada guru ngaji yang tinggal di bekas kandang soang selama 2,5 Tahun, anggota DPRD dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) merasa iba dengan keberadaan guru ngaji tersebut dan angkat bicara.

Erni Sugianti Anggota DRPD Propinsi Jawa Barat Fraksi PKB menyatakan Dibutuhkan perhatian pemerintah  Daerah Kabupaten Bogor yang lebih besar support yang lebih serius untuk para ibu yang menjadi tulang punggung keluarga seperti ini. Tempat tinggal yang tidak layak untuk seorang guru mengaji yang kadangnya didatangi anak anak untuk mengajar mengaji sudah seharusnya mendapat perhatian khusus dengan jalan memperbaiki melalui Program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dari pemerintah.[Pr45].

Penulis:

Baca Juga