Prihatin, Ibu dan 3 Anaknya Makan Tembleg Alias Terigu Goreng

Bogor, Timesline - Dalam suatu kehidupan memang Tuhan menciptakan adanya si Kaya dan adapun si Miskin ini yang dinamakan dinamika kehidupan duniawi, dan kalau kita mau merujuk kepada lima (5) butir Pancasila, pada sila ke 5 yang berbunyi, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia,” apakah butir ke 5 itu sudah sesuai dengan kehidupan masyarakat yang nyata ?.

Ternyata masih banyak masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan seperti yang terjadi dibeberapa wilayah Bogor. Ada seorang guru ngaji ibu Imas Romdona bersama 2 orangnya hidup di bekas kandang soang di Cibinong dan terjadi lagi peristiwa yang mengenaskan, sekeluarga harus makan terigu goreng dalam beberapa hari di Kabupaten Bogor tepatnya diKampung  Desa Totopong RT05/01, Desa Cipicung, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, bagaimana seorang ibu dan tiga (3) anaknya untuk bertahan hidup hanya makan terigu goreng

Sila ke 5 ini ada kaitannya dengan kehidupan masyarakat adil dan makmur yang sebagaimana harus diberikan bantuan sembako yang notabene perhatian khusus dari pemerintah pusat dan daerah untuk tidak lagi pemberian sembako salah sasaran.

Namun ada rasa syukur ditengah – tengah hiruk pikuknya dan carut marutnya pemberian sembako masih ada lembaga non pemerintah yang mengamati, perduli, dan mengayomi si miskin.

Kamis, 21 Mei 2020.  NU Peduli Kabupaten. Bogor Jaja Sujai  salah satu Pengurus NU PEDULI ( NU CARE )  terus bergerak menyisir ke perkampungan sambil melepas penat yg hampir 2 bulan Stay at Home dan Work form home sesuai dgn anjuran pemerintah, namun tatkala melintasi sebuah rumah di RT.05 RW.01 Desa Cipicung  Kecamatan  Cijeruk Kab. Bogor.

NU Peduli PCNU Kab. Bogor yang dipelopori oleh Jaja Suja'i, SPd segera menyambangi Leni (30), warga Kampung Totopong RT05/01, Desa Cipicung, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor salah satunya. Ibu tiga anak ini harus bertahan di tengah kesulitan akibat pandemi. Demi bertahan hidup, dia terpaksa menggoreng terigu campur gula agar perut anak-anaknya terisi.

Dalam ceritanya ibu Leni kepada Jaja Suja'i, ia memiliki suami yang bekerja sebagai kuli bangunan di Jakarta, namun sudah lama tidak mengirimkan uang, alih-alih pulang untuk mengunjungi Leni dan anak-anaknya, ungkap Jaja.

“ Leni mengaku, memakan terigu digoreng dengan dicampur sedikit gula, hanya untuk sekedar mengganjal perut dari rasa lapar, terkadang, Leni memanfaatkan singkong pemberian tetangga untuk santapan sehari-hari, lanjut Jaja.

ibu yang makan terigu goreng buat 3 anaknya, bahwa kelaparan Mengancam Bogor ibu 3 Anak Terpaksa Makan Terigu Goreng sungguh ironis, lirihnya.

Ditempat terpisah H. Amirullah.SH  (Wakil Ketua PCNU Kab. Bogor) ketika dimintai tanggapannya tentang Hibah Bansos pemerintah yang tidak semua masyarakat yang terdampak Covid 19 menerima, menjelaskan  sebaiknya para petugas dalam mendata penerima bantuan tersebut harus bekerjasama dengan para RT dan RW  karena merekalah yg tahu persis keadaan warganya dan saat ini adanya data yg belum terverifikasi sehingga banyak warga yang tdk menerima bantuan berupa  paket sembako dll.

“Sementara pemerintah tengah mengebut penyaluran bantuan sosial kepada masyarakat terdampak Covid-19. Namun, hingga sekarang masih saja ada masyarakat yang lolos dari 'jaring' pengaman sosial pemerintah, pungkas H. Amirullah.

“Pada saat Covid-19 Kang Jaja memberikan beberapa paket sembako dan sedikit uang jajan buat anak-anak bantuan langsung tersebut diterima oleh ibu Leni dengan suka cita.   mengucapkan banyak terima kasih atas partisipasi dan perhatian NU Peduli Kab. Bogor guna meringankan beban keluarga yang  tersebut, ucapnya.

"Suami sudah lama enggak pulang dan enggak kirim uang juga, Saya terpaksa bikin tembleg terigu (terigu goreng) untuk mengganjal perut anak saya yang lapar," cerita ibu Leni pada Jaja Suja'I dan rombongan.

Menurutnya (Leni), “ Bantuan pemerintah pun tidak pernah sampai di kediamannya yang di utarakan kembali oleh Jaja Suja'I.

Sementara Mahmud, SH MH selaku Wakil Sekretaris PCNU Kabupaten Bogor mengatakan pada wartawan,” Bantuan pemerintah sebenarnya ada tetapi dalam penyalurannya tidak tepat sasaran, ini karena ada kesalahan data penerima yang dibuat aparat Desa, Kata Mahmud.

“ Dan selanjutnya kata Mahmud,”  jumlah sembako yang akan disalurkan tidak cukup, contohnya dari 100 warga yang membutuhkan ternyata  pemerintah hanya bisa menyalurkan 10 paket bantuan hal ini banyak menimbulkan gejolak sampai-sampai Ketua RT dan RW menolak bantuan untuk menghindari kecemburuan sosial di warga.

“ Harapan saya jangan sampai musibah covid-19 menciptakan musibah baru yaitu musibah kelaparan, ini salah satu keironisan yang terjadi di Kab. Bogor dan pastinya ada juga di daerah-daerah lain yang mengalami nasib yang sama seperti yang dialami ibu Imas Romdona dan ibu Leni dengan ke 3 anak harus bertahan hidup dengan makan tembleg atau terigu goring,”  pinta Mahmud selaku Wakil Sekretaris PCNU Kabupaten Bogor kepada pemerintah pusat dan pemerintah daerah (Pemda).

Penulis: Edi

Baca Juga