Rezeki yang Halalan dan Tayyibah

Timesline.id - Semua orang yang normal pasti mendambakan kehidupan yang sukses dan bahagia. Salah satu faktor utama yang menentukan kebahagiaan seseorang adalah rezeki.

Sebab itu, yang mesti kita yakini adalah bahwa rezeki itu bersumber dari Allah azza wa jalla, Tuhan yang menciptakan manusia dan alam semesta. Setiap makhluk hidup memperoleh jatah rezeki dari Allah swt. Dari segi kuantitas, memang tidak sama antara orang yang satu dengan lainnya. Namun, Allah swt menjamin kecukupan rezeki bagi semua makhluk-Nya untuk menjalani kehidupan di dunia ini dengan wajar.

Yang terpenting adalah bahwa rezeki itu mesti diperoleh dari jalan (usaha) yang halal dan dibelanjalakan di jalan Allah, seperti untuk menafkahi keluarga, membayar zakat, infaq, shodaqoh, menolong sesama, dan membangun pusat inovasi. Sehingga, rezeki tersebut mendatangkan keberkahan berupa ketenteraman hati dan kebahagiaan serta keluarga sakinah mawadah warahmah.

Betapa banyak orang yang kaya raya, tetapi karena hartanya didapatkan secara haram. Maka, hidupnya penuh dengan kegelisahan, stres, tidak pernah merasa puas, bagai mengejar fatamorgana. Keluarganya berantakan, anaknya kecanduan narkoba, istri atau suami nya selingkuh, dan beragam penderitaan terselubung lainnya.

Kita tidak perlu khawatir dan risau tentang rezeki. Lebih dari 14 abad yang lalu Rasulullah saw telah mengingatkan umatnya: “Sekiranya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rezeki sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada seekor burung yang keluar dari sarangnya pada pagi hari dalam keadaan lapar, dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang” (HR. Tirmidzi).

Islam menyediakan pedoman sempurna tentang cara kita mendapatkan rezeki dan bagaimana mengelola penggunaannya.

Pertama, tentu kita harus bekerja dan berusaha sebaik (profesional) mungkin disertai dengan doa kepada Allah swt, Sang pemilik rezeki.

Kedua, gemar bersedekah dengan niat ikhlas karena Allah semata. Allah swt menjanjikan pahala (rewards) berlipat ganda bagi muslim dan mukmin yang bersedekah (QS. Al-Baqarah: 245). Sedekah tidak hanya dengan harta benda. “Senyummu kepada sesama insan adalah sedekah, mengajarkan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada yang belum mampu adalah sedekah, menunjukkan jalan dan menuntun saudara kita yang buta juga sedekah, bahkan hanya menyingkirkan duri dari jalan juga sedekah” (Hadits).

Ketiga, selalu bersyukur kepada Allah dengan rezeki yang kita peroleh dari jalan halal, berapapun jumlahnya. Pasalnya, rasa syukur dan sikap qanaah (merasa cukup dengan setiap rezeki pemberian Allah) akan menguatkan hati dan menjadi sumber energi positip, semangat, optimisme, daya kreativitas dan inovasi bagi kita di dalam menjalani kehidupan di dunia fana ini menuju tujuan akhir, surga di akhirat kelak.

Allah swt akan menambah rezeki bagi insan yang senantiasa bersyukur, dan akan mengazab bagi mereka yang ingkar (QS. Ibrahim: 7). Rasulullah saw menegaskan bahwa orang beriman itu hidupnya pasti indah dan bahagia. Sebab, ketika dia mendapatkan rezeki (kebajikan) dia akan bersyukur; dan pada saat mendapatkan musibah, dia akan sabar (HR. Al-Baihaqi).

Keempat, dangan bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-bearnya taqwa. Allah swt berjanji bahwa “Barangsiapa yang taqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dari kesulitan, dan melimpahkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka” (QS. At-Thalaq: 2 – 3). Taqwa adalah mengerjakan semua perintah Allah, dan menjauhi setiap larangan-Nya. Perintah tidak hanya mencakup ibadah mahdhoh (seperti salat, puasa, zakat, dan menunaikan ibadah haji di tanah suci Mekah), tetapi juga menuntut ilmu, menguasai dan membagikan IPTEK, menolong sesama insan, kebajikan serta akhlak mulia lainnya.

Penulis: Prof. Rokhmin Dahuri
Dimuat pada Kolom Hikmah (Halaman 1), Koran Republika, Senin, 20 April 2020

Penulis:

Baca Juga